Pembangkit listrik bertenaga Micro Hydro akan dibangun oleh pengusaha Ahmad Kalla di Mallawa, sedangkan pembangkit listrik tenaga uap akan dibangun di Kecamatan Bontoa oleh PT Fajar Mas Murni.
Jika kedua pembangkit itu beroperasi, maka akan menghasilkan tenaga listrik sebesar 70 Megawatt. Dengan rincian, Micro Hydro menghasilkan 5 Mega watt (MW) dan tenaga uap sebesar 65 mega watt. Dengan begitu, kebutuhan listrik sehari-hari warga Maros bisa terpenuhi.
Bupati Maros Hatta Rahman, di ruang kerjanya Kamis, 23 Juni menjelaskan, pembangkit tenaga listrik tersebut nantinya akan mampu memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Maros. Setiap harinya, kebutuhan listrik masyarakat mencapai 26 Mega watt.
“Ini kebutuhan untuk penduduk saja. Di luar kebutuhan listrik perusahaan seperti Semen Bosowa yang menggunakan listrik sebesar 62 Mega Watt,” katanya. Menurut Hatta, kebutuhan listrik merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam pembangunan dan jika hanya menggantungkan pada PLN maka pemerintah akan kesulitan.
Terkait rencana pembangunan pembangkit listrik micro hydro, beber Hatta, sudah dilakukan proses studi kelayakan. Selanjutnya adalah pembebasan lahan. “Kalau pembangkit listrik tenaga uap yang akan dibangun di Bontoa baru akan dilakukan studi kelayakan,” katanya.
Hatta mengaku anggaran pembangkit listrik micro hydro di Mallawa mencapai Rp80 miliar. Sementara pembangkit listrik tenaga uap di Bontoa menggunakan anggaran sebesar Rp600 miliar.
Tak hanya kedua pembangkit listrik ini saja yang akan dibangun. Pemkab Maros juga berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga air di daerah Tompobulu. Hanya saja diakuinya pemerintah masih kesulitan dengan investor karena membutuhkan anggaran sedikitnya Rp1,7 triliun.
Kepala Ranting PLN Maros, Darias mengaku sangat mendukung rencana Pemkab Maros. “Kami dari PLN pasti mensupport rencana Pemda Maros. Apalagi kalau ada penambahan tenaga listrik, karena itu berarti kekuatan kita untuk pemenuhan listrik bisa semakin membaik. Dan tentu saja kita mendukung guna penambahan daya untuk pelanggan,” ungkap Darias.
Apalagi menurut Darias, lokasi pembangunan pembangkit tenaga listrik Micro Hydro selama ini suplai listrik bergantung dari Kabupaten Bone. “Jadi kita tidak perlu bergantung sepenuhnya dari Bone. Karena kita sudah mampu menyalurkannya. Dan harganya juga sangat murah kalau dari PLTA,” katanya.
Darias menjelaskan, ada tiga kecamatan di Maros yang suplai listriknya dari Kabupaten Bone. “Kebutuhan pemakaiannya saat ini baru sekitar 2 MW. Jadi kalau misalnya nanti masuk 5 MW berarti daerah sekitarnya juga bisa dilayani,” jelas Darias.
